RILISJATENG.COM– Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) atau Kemitraan Pemerintah Australia – Indonesia dalam Ketahanan Kesehatan melalui Save The Children dan Migrant CARE bekerjasama dengan organisasi komunitas Roro Mendut wilayah Pati Utara serta Dinas Kesehatan Pati dalam hal ini UPTD Puskesmas Kecamatan Cluwak, melakukan giat vaksinasi covid-19 di Desa Ngablak Kecamatan Cluwak pada Jumát 5 Mei 2023.
Meski PPKM telah dihentikan oleh Pemerintah Pusat, namun tujuan dari kegiatan vaksinasi ini adalah sebagai upaya mitigasi dari kemungkinan naiknya angka paparan covid-19 di Kabupaten Pati, setelah melewati hari raya Idul Fitri dengan angka pemudik yang cukup tinggi. Dalam hal ini, kelompok yang mendapat prioritas untuk mendapatkan perlindungan adalah kelompok disabilitas.
Upaya mitigasi ini sejalan dengan siaran pers Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemeterian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid yang mengatakan kasus COVID-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan setelah Idul Fitri. Per Rabu (3/5/2023) tercatat sebanyak 2.647 kasus konfirmasi COVID-19 di Indonesia dengan 25 kasus kematian. Kenaikan kasus juga diiringi oleh peningkatan perawatan pasien di rumah sakit.
Data yang bersumber dari RS Online pada 03 Mei 2023 Pukul 14.00 WIB dan Dinkes Provinsi menunjukan keterisian bed atau BOR di rumah sakit sebesar 8,1% secara nasional, baik bed isolasi maupun bed intensif, dari 42.293 tempat tidur yang ada. Sebanyak lima rumah sakit mengalami peningkatan keterisian lebih dari 50% pada tanggal 3 Mei, yaitu RSUP Dr. M. Djamil, RS Dr. Tadjuddin Chalid, MPH, RSP Dr. Ario Wirawan, RSUP Prof Dr. R.D.Kandou, dan RSUP Dr. Kariadi.
Sementara Koordinator Imunisasi (Korim) Puskesmas Kecamatan Cluwak, Endriana Ika Purbasari, Amd.Keb menjelaskan kenapa memilih sasaran kelompok disabilitas karena masih tingginya angka disabilitas di Pati khususnya Kecamatan Cluwak yang belum mendapatkan vaksinasi covid 19. Selama ini untuk vaksinasi untuk kelompok disabilitas dilakukan dengan perlahan. Banyak kendala vaksinasi covid-19 bagi penyandang disabilitas terutama dari sisi pemahaman calon penerima manfaat, masih banyak yang takut dan percaya hoax serta kurang menyadari bahaya covid-19 bagi komunitas, sehingga harus dengan kesabaran membuat mereka berani dan mengedepankan komunikasi antar pribadi melalui bidan desa dan tokoh masyarakat lain.
Selain itu juga ada kendala keterbatasan mobilitas mereka dalam mendapatkan vaksinasi, umumnya merasa kesulitan dan tidak mau kalau dicampur antrian dengan yang masyarakat umum, karena capek kalau harus antri, ungkap Endriana.
Giat vaksinasi bagi kelompok disabilitas kali ini diprioritaskan untuk kelompok disabilitas dan lansia, dan bertepatan dengan jadwal Posyandu Lansia di Desa Ngablak, Kecamatan Cluwak, Pati.
Mereka yang datang umumnya Lansia dan mengalami disabilitas dengan beberapa kategori, seperti gangguan berjalan, gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran karena faktor usia. Namun ada juga disabilitas mental dan tuli. Dan proses pendataan calon penerima manfaat ini melibatkan Bidan Desa sebagai pemangku wilayah desa dalam bidang Kesehatan.
Ummi Athiyah, bidan desa Ngablak yang juga ikut dalam giat vaksinasi, mengangguk dan membenarkan Endriana, bahwa untuk bisa membuat kelompok disabilitas memiliki keberanian dan kesadaran sukarela mau di vaksin memang butuh waktu dengan terus melakukan pendekatan.
Menambahi Endriana, Vill Ardi dari Roro Mendut menjelaskan ketersediaan vaksin juga mempengaruhi keterlambatan kelompok disabilitas memperoleh haknya. Jumlah vaksin yang terbatas keburu habis oleh masyarakat umum yang datang langsung ke Puskesmas. Hal ini yang mendasari Roro Mendut mendukung Program AIHSP melalui Save the Children dan Migrant CARE melakukan vaksinasi dengan sasaran prioritas kelompok disabilitas.
Lebih lanjut, Vill Ardi menjelaskan beberapa penerima manfaat kali ini ada penderita disabilitas mental (ODGJ) yakni SJ (45), Dia mengalami gangguan jiwa sejak lima belas tahun yang lalu ketika usianya masih 30 tahun. SJ mengalami depresi karena persoalan keluarga dan ekonomi. Selain itu juga ada GM (78), Lansia yang mengalami gangguan penglihatan akibat penyakit katarak yang di derita karena faktor lanjut usia.
Tak cukup hanya mini sentra vaksinasi di Balaidesa, Tim Vaksinator dari Puskesmas Kecamatan Cluwak beserta Tim dari Migrant CARE dan Organisasi Komunitas Roro Mendut wilayah Pati Utara, juga melakukan serangkaian door to door mengunjungi pasangan tuli BW dan AR sebagai pasangan tuli, AR selama ini di sibukan dengan kerja ekonomi sebagai tukang parkir, sementara BW sebagai ibu rumah tangga yang memiliki anak kecil. Dengan alasan repot kalau harus sering bepergian apalagi harus mengikuti antrian vaksinasi, mereka belum mendapatkan hak atas vaksin. Vill Ardi yang giat belajar bahasa isyarat selama program vaksinasi, ikut membantu memberikan pemahaman dengan Bahasa isyarat kepada pasangan tuli BW dan AR
Selain mengunjungi pasangan tuli, Tim Vaksinator juga mengunjungi SA (60). SA tidak bisa hadir di balaidesa karena mengalami gangguan berjalan semenjak mengalami stroke. Untuk berjalan, SA menggunakan alat bantu jalan dan di papah anggota keluarganya ketika Tim Vaksinator datang.
Metode door to door dalam vaksinasi selama ini sebenarnya juga sudah dilakukan oleh Tim Puskesmas Kecamatan Cluwak. Namun penolakan calon penerima manfaat dengan alasan takut sering jadi kendala Tim Vaksinator. Dan mereka tidak boleh melakukan pemaksan dalam vaksinasi. Sehingga Komunikasi antar pribadi penting dilakukan dengan sabar dan melibatkan tokoh masyarakat setempat. Dalam hal ini peran bIdan desa sebagai Agent of Change (AoC) cukup penting dengan memberikan penjelasan pelan – pelan tanpa kenal menyerah. Paling efektif adalah dengan memberi contoh tetanga kiri – kanan yang sudah vaksin ke empat atau booster 2 dan tidak mengalami efek menakutkan seperti yang mereka dengar selama ini.
Setelah door to door, giat vaksinasi diakhiri pada pukul 11.00. Koordinator Imunisasi (Korim) Kecamatan Cluwak, Endriana Ika Purbasari, Amd.Keb menjelaskan kegiatan vaksinasi hari ini berjalan baik bahkan melebihi dari target penerima manfaat sejumlah 65 orang.
Penerima manfaat bervariasi, ada yang baru vaksin pertama hingga vaksin ke empat. Paling banyak menerima vaksin ke-empat dengan jenis vaksin Pfizer. Yang baru satu atau dua dan tiga lebih karena ketakutan masyarakat yang memang tidak bisa dipaksakan. Jadi harus pelan – pelan untuk memberikan pemahaman, ungkap Endri mengakhiri perbincangan.(RLS)







